Dengar,
Ini kutulis bukan karena kamu yang meminta..
Kutulis karena memang ingin kutulis
Walaupun pada awalnya tidak ingin kutulis..
Tapi kupikir….sudahlah..
Mungkin memang kamu harus tahu sesuatu tentang yang kurasa
Kalau kutulis bahwa ini adalah yang pertama, kamu pasti akan percaya..
Sayangnya aku tahu kalau itu semua tidak benar.
Rasanya seperti seorang Judas
Tak terasa nantinya aku akan tergantung pada sebuah papan
Kamu…lucu..
Entah kenapa lucu yang lepas dari mulutku
Tapi terbukti karena kamu membuatku tertawa
Akhirnya..
Duduk dan menjahit percakapan denganmu sangat menyenangkan
Sepertinya aku bisa marah dan tertawa
Terkadang tersipu dan mencerca
Tetapi kamu tidak pernah kehabisan kata
Walau hanya duduk dan bersandar tanpa kata-kata, rasanya pun tidak pernah bosan..
Karena kamu menangkap ketenangan
Kalau saja bisa lama-lama duduk dan bersandar…
Rasanya pasti akan sangat tenang..
Sayang…aku dan kamu tidak pernah bisa duduk dalam hitungan jam
Karena aku dan kamu tahu sesuatu mengenai batas dalam waktu
Walau kamu bilang kalau hatimu ada untukku
Tetapi tidak pernah utuh menjadi satu..
Aku tidak mengharapkanmu menjadi satu untukku
Karena akupun tidak akan pernah menajdi satu untuk kamu
Aku hanya minta kamu menjadi satu, ketika sedang duduk bersamaku..
Hanya itu.

Touching…
That lucky guy would agree with all the things u write above. Don’t let love bites reality, yet don’t put aside any of ‘em. Juz let ‘em walk within their own smooth path. When that happens, u’ll b able to define what exactly ‘love’ is all about. I believe that lucky guy always keep the love inside. It’s juz when the paths are crossin’ each other, he gotta choose the thing called ‘reality’. Perhaps this is the best way to play beautiful melody of the ‘love thing’
Hmm…not all will agree about the thing called ‘love’ in your version, especially fem. But I believe every one has its own way to play ‘love thing’ melody. Even my-self and yours.
Thanks for reading.