“Siapa yang akan menjadi satu?” tanya ibuku.
“Saya tidak tahu Bu.” jawabku.
“Mengapa ada undangan di meja ibu? Untuk dihadiri bukan?” tanya ibuku lagi.
Aku cuma bisa diam dan menghela nafas. Pelan-pelan ibu membuka undangan tersebut. Sehela nafas terdengar amat jelas ditelinga.
“Keduluan lagi. Harusnya kamu menikah dengan dia. Bukan perempuan ini menikah dengan dia.”
“Memang dari siapa Bu?” tanyaku.
“…..”. ibu diam dan meletakkan kembali undangan tersebut.
Kuambil undangan yang tergeletak diatas meja. Ibu benar. Seharusnya nama perempuan yang tertulis di undangan ini adalah namaku. Kutaruh kembali undangan tersebut diatas meja kemudian berjalan menuju kamarku. Meninggalkan ibu yang sepertinya masih tidak menerima bahwa nama yang tertulis diundangan tersebut bukan namaku.
_____________________________________________________
“Halo” sambutku ditelepon.
“Hei…” jawab lawan bicaraku.
“Sudah diterima?” katanya lagi.
“Oh.. sudah. Terima kasih ya.. Kok mendadak? 2 minggu lagi loh… Tidak ada kesempatan bikin kebaya baru dong”
“Hahaha.. kamu ini. Pasti selalu sempat kalau niat mau bikin kebaya baru. 5 hari saja bisa kan, waktu itu?”
“Iya.. tapi kan perhatian ekstra dan serba kilat. Aku harus bolak balik ke Pak Mono. Sudah gitu masih harus terima muka masamnya karena aku selalu menyuruhnya untuk cepat.” jawabku sambil tersenyum mengingat masa itu.
“Hahhaaa.. iya.. aku yang cuma mengantar saja juga ikut kebagian muka masamnya. Nggak dikasih minum lagi.” timpal lawan bicaraku.
“Non.. ” sahutnya lagi.
“Ya..” jawabku.
“Maaf ya…”
“Maksudnya?” tanyaku.
“Bukan kamu yang terakhir.”
” Sudahlah… kenapa kamu minta maaf? Keputusanmu sudah bulat kan?” tanyaku untuk menimpali pernyataannya.
Yang kudapat dari kalimat terakhir hanya hening. Walau bukan itu yang kumau tapi hanya itu kudapat. Hanya saja ini terlalu sepi. Tidak seperti beberapa waktu lalu yang kamu dan aku dapat tertawa.
“Apa yang salah dengan kita Non?” tanya lawan bicaraku lagi.
“Tidak ada yang salah. Semua terjadi begitu saja. Tiba - tiba kamu pergi. Aku sendiri. Tidak lama kamu kembali dan tidak sendiri. Tidak, tidak ada yang salah dengan kita.” jawabku.
Sekali lagi lawan bicaraku terdiam. Sekali lagi hanya hening yang kudapatkan. Sekali lagi dia pergi tiba - tiba. Sekali lagi saya hanya terdiam. Dan tanpa jawaban.
